“Bagaimana Cara Membuat Anak Membenci Game?”, Twitter Jepang Menjawab

Posted on

Gaming walaupun pada era ini sudah dilihat sebagai karir yang valid dan industri yang lebih besar dari film, musik, dan TV digabungkan sekalipun tentu masih memiliki stigma tertentu. Adiksi yang tidak sehat terhadapnya diakui oleh WHO dan pengeluaran yang berlebihan sudah rajin jadi berita di sini, jadi tentunya bermain secara sehat adalah sebuah keharusan.

Netizen Twitter @harinezumi_vc menyampaikan daftar di bawah yang memegan posisi bahwa bila bermain secara sehat tidak bisa dicapai, maka mengobarkan kebencian mungkin bisa digunakan:

“Cara membuat anak-anak Anda membenci videogame:

  1. Katakan pada mereka untuk bekerja sekeras mungkin dalam permainan.
  2. Tetapkan target untuk menandai kemajuan mereka sepanjang permainan.
  3. Jadilah orang yang memutuskan apa yang dianggap sebagai “kemajuan”
  4. Tegur mereka jika terlalu lama untuk maju
  5. Menuntut untuk tahu mengapa mereka membutuhkan waktu lama
  6. Buat mereka bersumpah bahwa mereka tidak akan ketinggalan target mereka
  7. Mengganggu gaya bermain mereka setiap kali mereka mencoba untuk bermain

Itu seharusnya efektif. “

Saat artikel ini ditulis retweet nyaris mencapai 46.000. Pada dasarnya respon untuk daftar tersebut adalah “Itu sih perintah untuk belajar/kerja” dan “Daripada membenci game, daftar ini lebih efektif untuk membuat mereka membenci orang tua”. @harinezumi_vc sendiri yang mengurus blog Shigoto Cafe yang berisikan tips kerja yang sehat nampaknya mengharapkan respon seperti di atas.Dirinya lalu melanjutkan tweet.


Seperti dari banyak respon, pernyataan ini juga berlaku ketika diterapkan untuk bekerja dan belajar. Ini mungkin tampak jelas ketika dituliskan dengan cara ini, tetapi banyak orang tua dan bos masih terus melakukan hal-hal ini.

Ambil tweet game sebagai contoh: jelas untuk sampai pada kesimpulan “Saya akan membencinya jika harus main seperti itu “atau “Itu akan membuat saya membenci orang tua saya “, tapi itu persis sama ketika datang untuk bekerja dan belajar. Maksud saya di sini adalah untuk bertanya, bukankah orangtua dan bos mengambil tindakan serupa ketika mencoba membuat anak-anak atau karyawan mereka bekerja atau belajar?

Saya masih menyelesaikan masalah ini dengan mengetesnya setiap hari, tetapi setiap hari saya bertanya-tanya tentang hal ini. “

Gamifikasi di ruang kerja atau saat belajar memang sudah umum, namun seringkali hal ini malah menambah stres akibat paksaan untuk memenuhi mandat yang prosesnya terlalu didikte oleh atasan atau pengajar. Idealnya, gamifikasi seharusnya membuat orang sadar bahwa game memberi kebebasan untuk pemain dalam mencapai target dan bukan memaksa pemain memenuhi target.

Ini bukan untuk mengatakan bahwa target selalu merupakan hal yang buruk. Sebagian besar diskusi tweet memperingatkan terhadap tuntunan yang berlebihan, memarahi orang karena gagal memenuhi standar yang tidak pernah mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri, dan menetapkan batas waktu yang tidak masuk akal. Ketika digunakan dengan benar, target bahkan dapat membantu anak jatuh cinta dengan sesuatu yang baru alih-alih menangkal mereka darinya.

Sumber: Soranews