[JOI Weekend] Drama Claim Waifu. Bukti Maturitas Fanbase Masih Rendah?

Posted on

Belakangan ini kita digemparkan dengan drama salah satu fanbase game ternama (sebut aja ‘Jalur Biru’) yang baru mendapatkan adaptasi anime di musim ini. Drama ini adalah perihal claim waifu yang sebenarnya sudah tidak asing bagi kita.

Sepertinya hal ini sudah menjadi tradisi untuk adaptasi anime yang berasal dari game. Ketika seseorang yang belum pernah memainkan gamenya tertarik pada salah satu karakter terutama perempuan, mereka mengklaimnya menjadi waifu. Sementara reaksi pemain gamenya mencoba mencekal tindakan claim tersebut dengan embel-embel “kalau belum main…” atau “kalau belum cincin…” dan sebagainya.

Hanya saja drama yang dirasakan kali ini cukup ramai sehingga rubrik yang sudah lama terpendam, JOI Weekend kembali muncul ke permukaan. Menarik sebenarnya membahas fenomenal musiman ini. Untuk itu JOI berusaha menggali seperti apa akar permasalahan dari drama tersebut.

Budaya Claim Waifu

Pernah saya bahas dalam artikel yang paling saya sayangi hingga sekarang, bagaimana para otaku menjalankan culture waifunya. Namun kali ini bakal saya kupas lebih tajam.

Otaku yang erat dengan kebiasaan mengikuti animanga dan bermain game mayoritas terdiri dari usia remaja hingga dewasa muda (kisaran 20 hingga 30 tahun). Dalam proses masa muda mereka, gejolak mencari wanita pedamping hidup mereka (entah pacar atau istri beneran) sangat bergemeruh dalam diri mereka meski mereka mengekang diri dengan hobi animanga dan game (karena konteknya waifu saya fokuskan pada otaku laki-laki meski ada otaku perempuan yang demikian).

Nah sosok pendamping inilah yang mereka bisa temukan dalam karakter perempuan yang ditemui mereka dalam animanga atau game yang mereka ikuti. Ditambah lagi karakter 2D (ataupun mengarah ke grafik 3D) tersebut tidak memiliki insting manusiawi seperti kemampuan memilih dan menolak. Ya tinggal claim dan mereka pun jadi waifumu, gampang kan.

Dedikasi Terhadap Waifu

Karena para jones (meski ga semua single juga) sudah mendapat karakter yang berstatus waifu, tentulah haruslah ada sebuah bukti cinta sang otaku terhadap si waifu. Ada banyak cara mendedikasikan diri kepada berhala yang disebut waifu ini. Misalnya kalau kamu jago ngegambar tinggal spam ngegambar waifumu. Kalau kamu sultan kamu bisa beli figurenya atau merchandise fisik lainnya. Ada juga yang mendesain itasha ala waifunya.

Contoh dedikasi tinggi terhadap waifu (atau sebenarnya husbando?)

Terlebih khusus di game, biasanya ada fitur resmi dalam mengklaim waifu. Yap itu adalah wedding system. Wedding system terjadul yang pernah saya ingat adalah Harvest Moon Back to Nature PS1 yang bisa melamar calon mempelai dengan sehelai bulu biru setelah susah payah kamu menaikan level hatinya. Buat game jaman sekarang kamu bisa melamar dengan cincin kawin dan mungkin dibutuhkan perjuangan untuk menaikan level atau memenuhi syarat tertentu lain sebelum kamu bisa melamarnya.

Dari Ekspansi Hingga Munculnya Orang Baru

Oke, kita bahas soal waifunya sampai disini saja. Intinya mereka yang memiliki kebanggaan terhadap waifunya, bekerja keras dan mengeluarkan pengorbanan semaksimal mungkin untuk karakternya kesayangannya tersebut. Nah melihat hal itulah, entah dari pembuat game atau pihak manga bisa mendapat kesempatan adaptasi ke server lain, normalnya adalah adaptasi anime.

Ekspansi pun dilakukan. Kamu bisa melihat bagaimana animasi melakukan apa yang belum pernah kamu lihat di dalam game, novel, maupun manga. Sementara dari sisi kreator anime, sudah menjadi tujuan mereka untuk mendapat keuntungan lebih serta menjaring lebih banyak fans yang rela berkorban demi dedikasi waifunya. Terlihat menjanjikan bukan sampai disini?

Munculnya Kecemburuan Hingga Kesenjangan Sosial

Eits, ternyata hal inilah yang bisa membuat permasalahan seperti drama yang baru-baru ini terjadi. Munculnya para orang-orang baru yang terjaring akibat ditayangkan adaptasi anime serial tertentu membuat para pemain lama terganggu. Mereka menetapkan batasan yang harus diterima agar si anak baru bisa masuk ke dalam fandom tersebut.


Sekali-kali kasih gambar imut di artikel ini

Fans yang sudah lebih lama mendalami serial tersebut sebisa mungkin melindungi harga dirinya, diakibatkan oleh waktu yang lebih awal dalam mendalami seri tersebut ataupun kerja keras dalam hal dedikasinya terhadap waifu. Kasarnya begini: “Gua udah cape-cape kenal series ini duluan, trus kerja keras cincinin si XXX jadi waifu, eh lu yang baru kenal series ini dari anime main claim aja.” Oleh karena itu, tidak heran ada istilah seperti newbie atau elitist dalam permasalahan yang seperti ini.

Padahal proses klaim waifu mereka juga sama saja. Sadar atau tidak sadar para otaku yang mencoba membatasi orang baru tadi juga telah mengklaim waifu sejak pertama kali bermain. Mereka memilah mana karakter yang bisa dijadikan waifu sesuai selera mereka. Barulah mereka melakukan dedikasi untuk mencapai kebanggaan dalam mengklaim waifu kesayangannya.

Ok, Here’s The Solution

Sepertinya kalau saya membahasnya seperti ini saja terlihat seperti memojokan satu pihak, namun saya sudah berusaha bersikap netral dan menulis artikel ini sesehat mungkin. Jadi kalau kamu minta solusi seperti apa buat masalah ini tentu saja saya dengan senang hati memberikannya. Seperti prinsip yang saya pegang, “Selalu ada cara untuk membuka pintu yang terkunci.”

Memang dibanding dengan anime orisinil yang bukan adaptasi manapun kalian bisa lihat betapa damainya mereka dibanding fandom yang mendapat anime adaptasi dari game, manga, maupun novel. Dari sini kita bisa lihat, seperti yang saya sebut sebelumnya, proses claim waifu bukanlah seperti hal yang dibatasi oleh fans lama. Semua orang punya hak yang sama.

Menutup diri dalam menerima sesuatu yang baru adalah tindakan yang salah. Janganlah kalian dibutakan oleh kebanggaan diri yang fana. Tindakan kalian yang seperti itu justru memperlihatkan diri kalian bodoh dan menjadi lelucon dalam perwibuan. Toh dakimakura kamu ga bakal berpindah tangan ke mereka yang baru muncul.

Intinya, cobalah terima mereka orang baru sebagai rekan seiman. Kalau mereka tertatih dalam mempelajari fandom ya tugasmu sebagai senpai untuk membina mereka jangan dibully.

Buat yang newbie, cobalah mengenal seperti apa fandom yang kamu ingin masuki dan perdalam pengenalan karakter terlebih dahulu. Hormati pula para senpai yang sudah susah payah berkorban demi waifu mereka.

Yah meski demikian, pastinya hal ini sulit dijadikan realita mengingat fanbase Indonesia sering mencari perkara untuk dijadikan asupan drama.

Dilarang klaim waifu saya sebelum maen gamenya ea

Referensi:

Hashimoto, Miyuki. “Otaku and Moe: An Intercultural Analysis of the Fetishist Tendency of Otaku”. SOS 10 · 1 (2011): 115-137. Web. 11 Oct. 2019.

Rivera, Renato. “The Otaku in Transition”. Journal of Kyoto Seika University No. 35 (2008): 193-205. Web. 11 Oct 2019.

Garg, Siddharth. “From Pronoun To Identity: Tracing the History of the Word Otaku”. Journal of Arts, Culture, Philosophy, Religion, Language, and Literature (2019): 21-23. Web. 11 Oct. 2019.

Gambar: 1, 2